TAMAN PURBAKALA KOMPLEKS MAKAM LA TENRI RUWA



IMG_6008.jpeg

Kompleks Makam La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam peninggalan sejarah yang terletak di Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Nama makam tersebut diambil dari nama salah seorang raja Kesultanan Bone yang pertama memeluk agama Islam yang meninggal dunia di daerah Bantaeng dalam penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Di dalam Kompleks makam tersebutjuga terdapat beberapa makam Raja-Raja Bantaeang  yang menjadi bukti Kejayaan Bantaeng dimasa lalu dengan latar belakang sejarah bahwa Bantaeng merupakan Daerah kawasan para Raja-Raja atau lebih dikenal sebagai Karaengna Bantaeng. 

Dalam Kompleks pemakaman ini terdapat sekitar 159 buah makam yang merupakan makam bersejarah dan selebihnya merupakan makam baru. Menurut penjaga makam total makam yang ada di kompleks tersebut ada 200 lebih makam namun hampir semua makam yang ada tdk diketahui siapa yang dimakamkan dan kapan waktunya  karna tidak ada inskripsi yang menyebutkan tentang hal tersebut.  Hal ini berhubungan dengan kebiasaan masyarakat suku Bugis dan Makassar untuk tidak menuliskan nama orang mati di makamnya kecuali inskripsi yang menyebutkan doa, nama Allah dan Muhammad. Adapun bangunan makamnya terbuat dari batu karang, selebihnya dari batu cadas, batu bata, dan batu kapur yangmemakai bahan perekat semen. Menurut Pegelolah  bahwakompleks makam tersebut pertama kali dikelolah sebagai taman purbakala pada tahun 1981 sekaligus pemugaran pertama sampai tahun 1984  Kompleks Makam tersebut kemudian diresmikan  sebagai taman perbakala pada 11 Agustus 1984 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Dep. DIKBUD dengan nama Komplek Makam La Tenri Ruwa. 

Dalam kompleks Makam tersebut yang paling terkenal adalah makam La Tenri Ruwa sekaligus nama dari  tamanpurbakala tersebut. La Tenri Ruwa merupakan Raja Bone ke 11 yang pertamakali memeluk Agama Islam. Dalam kisahnya pada awal abad ke 17 Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Rajanya Sultan Alaudin dengan gencarnya menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sulawesi Selatan. Pada masa kekuasaan we tenri patuppu Raja Bone ke-10, Raja Gowa datang membawa agama islam ke ajatappareng namun dihalangi oleh persekutuan tellumpoccoe yang membuat Raja Gowa Kembali. Setahun kemudian Gowa datang lagoi ke padangpadang, dan tellumpoccoe Kembali menghalangi sehingga terjadilah perang dengan kekalahan tellumpoccoe di sebelah timur bulu sitoppo.

Pada tahun 1609 masehi Gowa melanjutkan penyebaran agama islam di soppeng, tanpa bantuan dari Bone dan wajo,soppeng dengan mudah dikalahkan dan membuat soppeng masuk islam, kemudian Gowa melanjutkan penyebaran islam di wajo, wajo pun takluk dan menerima islam pada tahun 1610 masehi. Ketika we tenri patuppu meninggal dunia , orang Bone sepakat untuk mengangkat La Tenri Ruwa menjadi Raja Bone ke-11 pada tahun 1611 MasehiLa Tenri Ruwa adalah Raja Bone dengan masa pemerintahan yang paling singkat, belum cukup 3 bulan La Tenri Ruwa memangku jabatan sebagai Raja Bone,datanglah Raja Gowa membawa islam ke Bone. Orang Gowa membuat benteng di palette. Pada mulanya penguasa Kerajaan Gowa meminta kepada Raja Bone La Tenri Ruwa menerima agama islam sebagai agama resmi Kerajaan. Oleh karna menyangkut rakyat banyak, maka perlu terlebih dahulu menyampaikan ke Ade’ Pitue.

Berkatalah La Tenri Ruwa kepada orang Bone. “kalian telah mengangkat saya menjadi Raja untuk membawa Bone kepada jalan yang baik. Raja Gowa datang membawa islam yang menurutnya adalah kebaikan yang harus disebarkan, sesuai dengan perjanjian kita yang lalu,siapa yang mendapatkan kebaikan,dialah yang berkewajiban menunjukkan jalan. Oleh karena itu saya mengajak kalian untuk menerima islam.” 

Dalam Lontara akkarungeng ri Bone menceritakan bahwa rakyat Bone menolak untuk menerima islam. Raja Gowa berkata. “menurutku islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama nabi. Kalua engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada tuhan yang maha esa.”

Menyambut seruan Raja Gowa tersebut,maka berkatalah La Tenri Ruwa kepada rakyatnya. “kalau kalian tidak menerima baik maksud Raja Gowa,padahal dia benar,dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba Namanya. Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai.kalau kita melawan,itu adalah wajar.jangan kalian menyangka bahwa saya tidak mampu untuk melawannya.”

Ketika itu semua orang Bone menolak islam, arumpone La Tenri Ruwa hanya diam, karna dia sudah tahu bahwa orang Bone berpendapat lain. Rakyat Bone pada saat itu menolak ajakan Raja Gowa karna menilai itu hanya akal akalan dari Raja Gowa untuk mendominasi kekuasaan di Sulawesi.

La Tenri Ruwa memilih untuk pergi ke pattiro dan hanya di ikuti oleh keluarga dekatnya,sesampainya di pattiro,ia mengajak lagi orang pattiro untuk menerima islam. Ternyata orang pattiro juga menolak. Ketika arumpone La Tenri Ruwa ke pattiro,orangBone sepakat menjatuhkan La Tenri Ruwa, diutuslah la mallalengang to alaungeng ke pattiro untuk menemui arumpone.

Kepada arumpone la mallalengang berkata, “saya disuruh orang Bone untuk menyampaikan bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak paduka sebagai mangkau’e, tetapi paduka sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat  Bone menghadapi musuh besar,paduka meninggalkannya.” 

Arumpone menjawab, “saya menyangkal kalau saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan cahaya yang terang. Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih jalan kegelapan. Makanya saya pergi memilih jalan kebaikan dan cahaya terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada nabinya.”

Ketika To Alaungeng kembali ke Bone, Arumpone La Tenri Ruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Pallette untuk bertemu dengan KaraengE ri Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette. Begitu pula KaraengE menyuruh Karaeng Pettu ke Pattiro menemui Arumpone.

Sesampainya Karaeng Pettu di Pattiro dan bertemu Arumpone, tiba-tiba tempatnya bertemu itu dikepung oleh orang Pattiro dan SibuluE. Arumpone sekeluarga bersama Karaeng Pettu meninggalkan tempat menuju ke puncak gunung Maroanging. Masyarakat Bone menolak ajakan Rajanya memeluk Agama Islam, karena melihat kenyataan bahwa Raja Gowa datang dengan angkatan perang yang besar berarti pelanggaran atas kedaulatan Kerajaan Bone.

Setelah itu, pergilah Arumpone menemui KaraengE ri Gowa, sementara Karaeng Pettu tinggal menjaga Pattiro. Di Pallette Arumpone La Tenri Ruwa ditanya oleh KaraengE ri Gowa,”Sampai dimana batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”. Arumpone menjawab, ”Yang menjadi milikku adalah Palakka, Pattiro dan Awampone. Kalau Mario Riwawo adalah milik isteriku”.

Berkata lagi KaraengE, ”Ucapkanlah syahadat, biar Palakka, Pattiro dan Awampone saja yang menerima Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”. Arumpone menjawab, ”Karena saya akan mengucapkan syahadat, sehingga saya kemari”.

Selanjutnya KaraengE ri Gowa berkata, ”Saya juga tahu bahwa Pallette ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat berdirinya bentengku. Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun saya berikan kembali kepadamu”. Kemudian KaraengE ri Gowa, Karaeng Tallo dan Arumpone berikrar.  Pertama diucapkan oleh KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo”.

“Inilah yang dipersaksikan Dewata SeuwaE bahwa bukanlah turunan KaraengE ri Gowa dan Tallo yang kelak akan mengganggu hak-hakmu. Kalau ada kesulitan, bukalah pintumu untuk kami masuk pada kesulitan itu”.

Arumpone menjawab, ”Wahai Karaeng, ikat padiku tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam pikiranku. Kalau ada kesulitan yang menimpa Gowa, biar sebatang bambu yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.

Setelah ketiganya mengucapkan ikrar, kembalilah Arumpone La Tenri Ruwa ke Pattiro. Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan bersama, dibakarlah Bone oleh orang Gowa. Menyerahlah Orang-orang Bone dan mengucapkan syahadat. Kemudian KaraengE ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya.

Sejak La Tenri Ruwa meninggalkan Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone tak lagi menganggapnya sebagai Mangkaue’. Kesepakatan orang Bone adalah mengangkat anak dari MatinroE ri Addenenna, La Tenri Pale To Akkeppeang menjadi Arumpone (Tahun 1611).

Sementara Bone menjadi medan perang, La Tenri Ruwa pergi ke makassar dan tinggal Bersama datu ri bandang untuk memperdalam islam. Disana ia di beri gelar dengan sebutan Sultan Adam,setelah sekian lama tinggal di makassar La Tenri Ruwa diberi tempat oleh Raja Gowa di Bantaeng sampai meninggal disana hingga digelari MatinroE ri Bantaeng. La Tenri Ruwa meninggal dunia pada tanggal 28 oktober 1631 Masehi dan kemudian dimakamkan disana. 

Selain makam Raja La Tenri Ruwa dalam kompleks makam tersebut juga terdapat makam beberapa Raja Bantaeng seperti Karaeng Majjombe Raja Ke 7 Kerajaan Bantaeng, Karaeng Pawiloi Raja ke 30 -33 Kerajaan Bantaeng, dan Karaeng Andi Mannapiang Raja ke 33-34 Kerajaan Bantaeng. 



 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sosok Andi Mappanyukki, Pahlawan Pejuang dari Tanah Sulawesi

ROAD TO BAKSOS, BAZAR SUKSES DI HADIRI 50+ LK SE KOTA MAKASAR

PANORAMA 2025 SUKSES DI SELENGGARAKAN