Pengenalan Situs Taman Prasejarah Leang-Leang
HASIL
PENGENALAN SITUS PRASEJARAH GUA LEANG-LEANG DI KABUPATEN MAROS
@rera2020_
Jelajah situs merupakan salah satu metode yang dilakukan
untuk mengaplikasikan materi yang di dapat di bangku perkuliahan mengenai
sejarah Indonesia Masa Praaksara, jadi disini mahasiswa dapat melihat langsung
bukti-bukti peninggalan zaman Prasejarah dan juga sebagai bentuk pembelajaran
kepada mahasiswa khususnya di Prodi Pendidikan Sejarah. Adapun jelajah situs
ini dilaksanakan di wilayah Taman Nasional Bantimurung yang berada di daerah
Maros-Pangkep. Kawasan ini diakui sebagai kawasan karst yang terbesar kedua di
dunia setelah kawasan karst Guangzhou yang ada di China. Kata Leang-leag
sendiri memiliki arti “gua” dalam bahasa setempat. Luas kawasannya sekitar
43.750 hektar dan wilayah ini memiliki 286 gua dengan 30 di antaranya adalah gua
prasejarah. Situs ini pertama kali ditemukan oleh arkeolog Belanda bernama Van
Heekeren dan Heeren Palm pada tanggal 27 Februari 1950. Mereka menemukan dua
gua di Leang-leang Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Kemudian gua ini
diberi nama Gua Petta Kere dan Gua Pettae
Leang Petta Kere merupakan gua yang didalamnya terdapat lukisan yang ditemukan pada tahun 1950 oleh Heeren Palm, gua ini diperkirakan dihuni sekitar tahun 8000-3000 SM. Menurut Bapak Asri dari BPCB SulSel (Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan) selaku pemandu di kawasan gua tersebut, lukisan telapak tangan yang ada dalam gua Petta Kere diduga berasal dari telapak tangan kiri seorang wanita. Di gua ini juga ditemukan 27 gambar telapak tangan dan 2 gambar babi rusa yang berwarna merah. Adapun Leang Pettae Kere diyakini erat kaitannya dengan kepercayaan yang bersifat religius karena gua ini dijadikan sebagai tempat pemujaan karena posisinya yang lebih tinggi dibadingkan gua Pettae, alasan penguat lainnya adalah dari lukisan di Petta Kere memiliki kaitan dengan usaha manusia pada masa lalu agar dapat melakukan komunikasi dengan alam dan kekuatan yang sifatnya supranatural. Sebelum melakukan perburuan, manusia purba pada saat itu akan mengadakan pemujaan di gua ini dengan menggambar binatang yang akan diburu dengan harapan pada roh nenek moyang mereka agar membantu mereka berhasil dalam perburuan.
Selanjutnya ada gua Leang Pettae yang ditemukan pertama
kali oleh Van Heekeren pada tahun 1950. Di dalam Leang Pettae terdapat lukisan
babi rusa dan mata panah yang bergerigi yang dinamakam Maros Point, ditemukan
pula 5 gambar telapak tangan.. Gua ini difungsikan sebagai tempat tinggal
karena para arkeolog menemukan kjokkenmoddinger
atau sampah-sampah dapur berupa kulit kerang, dimana menurut informan
disana tempat ini dahulunya adalah laut yang sudah mengering.
Lukisan-lukisan pada dinding gua dicat menggunakan cat
warna merah yang terbuat dari Oker yang dihaluskan. Lukisan-lukisan pada
dinding gua memliki makna tertentu seperti lukisan cap tangan yang memiliki
makna sebagai penolak Bala (pembuang sial), babi rusa sebagai makna kebehasilan
dalam berburu, dan cap tangan yang tidak utuh atau tidak lengkap jarinya
memiliki makna manusia purba itu sedang berduka (ada salah satu dari kelompok mereka
yang meninggal).
Kehidupan ekonomi, kehidupan sosial, kebudayaan dan
kepercayaan pada gua Petta Kere dan Pettae itu sama, dimana kehidupan ekonomi
pada saat itu berburu dan mengumpulkan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kehidupan sosial masyarakat pada saat itu adalah hidup secara berkelompok dan
nomaden atau hidup secara berpindah-pindah. Kepercayaan masyarakat pada saat
itu adala Animisme dan Dinamisme dimana masyarakat percaya pada roh atau benda yang
dianggapnya dapat menyelamatkan. Kemudian kebudayaan yang di temukan pada situs
ini antara lain kapak perimbas, mata panah bergerigi, kapak lonjong, dan
liontin dari batu dan kerang. Di Leang Petta Kere dan Pettae sendiri para
arkeolog tidak menemukan fosil manusia purba dan jenis manusia puraba apa yang
pernah mendiami tempat itu sebelumnya.
HIMA Pend. sejarah FIS UNM
12 Desember 2020
Komentar
Posting Komentar