Dua sisi pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses bagaimana kemudian manusia dapat memanusiakan manusia.(KH.Dewantara) 

     Di Indonesia dahulu pendidikan digunakan untuk melawan Penjajah, para Founding Father belajar mati-matian agar bisa menjadi cahaya untuk membebaskan Nusantara dari belenggu Penjajahan serta belenggu kebodohan. Mereka membangun organisasi-organisasi yang kemudian memprakarsai gerakan kemerdekaan melalui jalur diplomasi karena nilai tawar dari organisasi/lembaga tersebut berbahaya bagi para penjajah. 

Melalui pendidikan, Nusantara mendapat secerca cahaya untuk menjadi bangsa yang mandiri secara politik dan ekonomi.

   Namun Jika kita melihat hari ini, Indonesia seakan tak punya power untuk melepaskan diri dari masalah-masalah yang dihadapi baik itu politik, ekonomi maupun sosial. Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi.?? Menurut penulis, pendidikanlah yang membuat hal tersebut terjadi, dan pendidikan pula lah yang dapat menjadi solusi untuk masalah yang di hadapi Indonesia.

   Pendidikan hari ini hanya mengajarkan apa yang disebut KEPATUHAN dan terfokus pada variabel angka sebagai tolok ukur keberhasilan, sehingga hal tersebut menyebabkan pemikiran-pemikiran kolot menjadi berkuasa tanpa ada pemikiran solutif lain. Kenapa hal tersebut saya paparkan di tulisan ini.?? Itu karena realitas yang terjadi di lapangan kebanyakan seperti di atas, ketika ada yang tidak sepemahaman dengan hal tersebut maka biasa akan diintimidasi secara akademik maupun sosial. Bahkan Organisasi yang seharusnya menjadi wadah bagi setiap insan yang memiliki pemikiran bebas untuk kemajuan rakyat juga mulai bergeser dari orientasinya. Kepentingan individu atau sebagian kelompok di dalam organisasi menjadi batu sandungan sehingga gerakan yg seharusnya murni dari hati kini telah tersusupi.

   Gerakan-gerakan hari ini juga terhalang oleh mental para individu yg tergabung. Hal ini karena tidak konsistennya setiap pengawalan yg dilakukan dan mudahnya terprovokasi oleh isu lain sehingga gerakan-gerakan yang lahir hanya seperti riakan sementara.

   Sikap apatisme para intelek kian menusuk jantung Indonesia, "sudah terluka disiram garam pula". Mungkin itu kalimat yang cocok untuk menggambarkan kondisi Indonesia sekarang, ada banyak orang-orang pintar namun mereka mengkerdilkan kepintaran mereka, entah karena tidak peduli terhadap bangsa dan rakyat atau ada kongkalikong yang sedang berjalan. Kemudian elit-elit politik yang terpelajar juga mengkerdilkan kepintaran yang mereka miliki demi kepentingan diri sendiri, ini juga menjadi penyakit bagi Indonesia. Di lain sisi orang-orang yang terdampak kian merintih karena kejamnya sistem yang berlaku.

   "Apa yang kau harap dari jiwa-jiwa yg sibuk belajar tapi acuh akan sekitar.?? Adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap semua pengetahuan yang dimiliki jika masih diam ketika ada hal yang perlu di benahi".

   Idealnya pendidikan hari ini dalam pelaksanaannya harus general tanpa memilih kelas sosial (Gratis). Sehingga orang-orang yg memiliki potensi namun tidak cukup mampu masuk ke dalam lembaga formal (Sekolah) dapat terjamah dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. di satu sisi birokrasi di dalam dunia pendidikan tidak boleh mengekang hak aspirasi setiap pelajar sehingga terjadi keseimbangan serta keselarasan pemikiran. Pun penulis juga menyarankan agar proses pembelajaran bisa lebih kreatif agar dapat meningkatkan minat belajar.  

   Namun pendidikan dapat menjadi pisau bermata dua, sehingga moral dan akhlak jadi kunci untuk mengontrol diri sendiri, rakyat dan bangsa. Orang yang memiliki moral serta akhlak baik,maka akan memberikan dampak yang baik begitupun sebaliknya. 

    Opini singkat ini di tulis untuk memperingati hari pendidikan Nasional. Terimakasih dari penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATGAS GAGAL, MAHASISWA TERABAIKAN!

Mengenal Sosok Andi Mappanyukki, Pahlawan Pejuang dari Tanah Sulawesi

ROAD TO BAKSOS, BAZAR SUKSES DI HADIRI 50+ LK SE KOTA MAKASAR