PUISI KARYA RERA 2020

 

HUKUM RINDU SOSOKMU 

Oleh: Lailil Akbar Arsyad

Jeruji besi tak mampu menjerat tikus-tikus berdasi

 Palu hanya ketukan dusta diatas meja hijau 

Pencuri sandal jepit divonis mati matian 

Dalam buih layaknya binatang

 Namun koruptor dibela mati matian

Dalam buih bintang lima


Privasi direvisi Kritik dibungkam

Dituduh pemberontak Ditangkap karena benar

 Sebab takut lengser dari kursinya

 

Wakil rakyat tak lagi merakyat

Pemimpin kehilangan rakyatnya

Sumpah jabatan hanya omong kosong

Tuhan pun tak membuat mereka takut

 

Hukum dibeli dengan materi dan jabatan

Lantas dimana keadilan yang seadil-adilnya?

Dimana kebenaran bertahta? Dimana kejujuran bersemayam?

Atau mungkin semua itu hanyalah ilusi?

 

Pak Baharuddin Lopa!

Pendekar hukum dari Tanah Mandar

Keadilan butuh kebijaksanaanmu

Hukum negeri ini butuh petuah-petuah mu

Kebenaran butuh ketegasan dan kejujuranmu

Lapor Pak!! Singgasanamu merindukanmu

 

Tinambung, 8 Oktober 2019

 

BIARKAN

Oleh: Widya

Biarkan semua pergi

Biarkan semua lenyap

Biarkan semua hilang tak berbekas

Dan biarkan tawanya tak bergema lagi

 

Kita tak tau, esok atau lusa

Akan datang harapan

yang akan membasuh kemuraman diri

Akan datang tawa yang lain

yang akan mengganti segala kepedihan hati.

 

Untuk semua kebahagiaan yang kita rasakan

dan untuk semua kebahagiaan

yang kini tinggal kenangan

Kini kita sedang tak baik-baik saja

Bukan tentang kamu atau tentang aku

Tapi tentang kita

Tentang semua manusia yang hidup di muka bumi

 

Apakah kamu merasa baik-baik saja?

Mendengar setiap harinya selalu ada saja yang mati

Ditengah duka yang tak kunjung reda Tuhan ingin kita tetap saling jaga

 

Jika kita tidak punya daya

Ada Tuhan yang mengabulkan segala doa Tuhan tau batas kemampuan

umatnya Berdoalah agar kita semua bisa tetap bersama.

 


Oleh: Widya

Ingat, kita hanyalah manusia.

Kita hanyalah tamu di sini

Perihal meninggalkan dan di tinggalkan

semua itu akan terjadi

 

Seketika lemah

Seketika telah tiada

Seketika akan hancur berkeping keping

 

Dunia sedang di uji

Kita harus sadar

Kita harus bersatu

Dunia butuh kita untuk bersatu

 

Kita tak tau, esok atau lusa

Akan dating harapan

Yang akan membasuh kemuraman diri

Akan datang tawa yang lain

Yang akan mengganti segala kepedihan hati.

 

Untuk semua kebahagiaan yang kita rasakan

Dan untuk semua kebahagiaan yang kini tinggal kenanggan. 

 

Oleh: Lailil Akbar Arsyad

Ada jejak kita sulam untuk ditinggalkan

Ditemani rembulan dan matahari yang berlingsatan

Ada jejak terseret dan teronggok di pinggir pantai

Ditetesi air jatuh dari langit

Diterpa angin yang bergerak dari timur

 

Maka kutancapkan rasaku diantara tonggak pusar laut

Dan kuikat bebatuan dengan kaki tangan gurita

Biar aku bebas berguru kesetiaan pada karang

Sedang air laut menjadi air mataku

 

Biarkanlah aku menjamahmu didepan ombak

Seraya menidurkan mu diatas bebatuan cadas

 

Biarkanlah aku mempersembahkan mentari kepada pasir

Lalu jelang pagi kau tawarkan kepadaku secawan anggur yang engkau petik di rembulan

 

Tinambung, 19 Maret 2019





# HIMA PEND. SEJARAH FISH-UNM




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SATGAS GAGAL, MAHASISWA TERABAIKAN!

Mengenal Sosok Andi Mappanyukki, Pahlawan Pejuang dari Tanah Sulawesi

ROAD TO BAKSOS, BAZAR SUKSES DI HADIRI 50+ LK SE KOTA MAKASAR