KAWASAN ADAT AMMATOA SUKU KAJANG
Suku Kajang merupakan salah satu suku tradisional yang terletak di Desa Tana Towa, Kec. Kajang, KabupatenBulukumba, Sulawesi Selatan. Desa Tana Towa sendiri terdiridari 9 dusun yang dimana sekitar 6 dusun diantaranya masukdalam kawasan adat yang kemudian biasa disebut kajang dalamdan 3 dusun lainnya diluar dari kawasan adat yang kumudianbiasa disebut kajang luar (orang-orang yang berdiam di sekitarSuku Kajang yang relatif modern.
Suku Kajang terkenal dengan kebudayaannya yang sangatkental dan sacral yang masih ada hingga sekarang. Menurutmasyarakat adat Kajang bahwa nenek moyang mereka dantempat mereka adalah yang pertama di Bumi dan suda ada sejakbumi diciptakan itulah mengapa mereka menyebut Tana Towa ( Tanah Tua. Selain itu mereka menjauhkan diri dari segalasesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi yang sekaligus menjadi keunikan tersendirinya.
Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakatmemegang teguh ajaran “pasang ri Kajang”, yaitu ajaran yang dinilai ampuh untuk melestarikan hutan. Sedangkan bahasa yang digunakan oleh penduduk Suku Kajang adalah Bahasa Makassar yang berdialek Konjo.
Salah satu keunikan dari Suku Kajang adalah pakaiannya yang serba Hitam dan tidak menggunakan alas kaki. Hitammerupakan sebuah warna adat yang kental, menurut masyarakatKajang filosofi warna hitam diambil dari singa dan malam yang dimana hanya ada dua warna yaitu Hitam dan Putih. Itulahmengapa ketika kita memasuki kawasan Ammatoa, pakaian kitaharus berwarna hitam.
Tanah mereka merupakan yang pertama diciptakan Tuhan di muka bumi. Mereka menganggap tanah mereka sebagai warisanleluhur. Segala sesuatu yang berada di dalam hutan adat tidakboleh untuk dirusak, termasuk menebang kayu, memburubinatang, apalagi membakar hutan. Hal ini lah yang jugamenjadi keunikan lain dari masyarakat adat suku Kajangdimana Meskipun mereka tidak memiliki pengetahuan formal dan hidup dalam gelimang kecanggihan teknologi, Suku Kajangmengerti bagaimana mereka harus berinteraksi dengan alam, terutama hutan mereka. Mereka paham bahwa sumber kekayaanhutan tidak sepatutnya dieksploitasi, melainkan harus dijadikansebagai pendamping kehidupan sehari-hari. Hal itu merekajunjung karena adanya upaya penghormatan kepada Sang MahaBerkehendak yang mereka yakini mewujud ke dalam sakralitasalam. Merusak lingkungan dan alam samahalnya denganmenghianati ajaran Tuhan dan Ammatoa yang memberikanmereka kehidupan selama ini. Kearifan lokal dan aturan adatsangat mereka junjung tinggi, terutama yang berkaitan denganpraktik-praktik perilaku manusia dengan alam. Mereka yang melanggar itu akan mendapatkan hukuman atau denda sesuaidengan pelanggarannya.
Ammatowa merupakan pemimpin adat tertinggi dalamkomunitas Adat Kajang. Secara etimologinya Ammatoa sendiriterdiri dari dua suku kata yaitu Amma ( Bapak)dan Towa ( Tua) jadi ini mengartikan bahwa orang yang memimpin suku Kajangadalah orang yang dituakan. Ammatowa sendir memiliki masa jabatan seumur hidup, artinya sampai orang yang sudah dilantikmenjadi Ammatoa meninggal dunia. Masyarakat memahami danmempercayai bahwa Ammatoa ditunjuk langsung oleh TuriekAkrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa) melalui proses ritual di dalam hutan keramat bernama hutan Tombolo.
Sebagian besar Suku Kajang memeluk agama Islam. Meskipundemikian, mereka juga mempraktikkan sebuah kepercayaan adatyang disebut dengan Patuntung. Patuntung diartikan sebagaimencari sumber kebenaran. Hal itu menyiratkan bahwa apabilamanusia ingin mendapatkan sumber kebenaran, maka merekaharus menyandarkan diri pada tiga pilar, yaitu Tuhan, tanah, dannenek moyang. Keyakinan kepada Tuhan adalah kepercayaanyang paling mendasar dalam kepercayaan patuntung. SukuKajang percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dari segalasesuatu, Mahakekal, dan Mahakuasa. Mereka juga memiliki adatistiadat yaitu adat istiadat dalam bertutur kata. Bagi mereka, adalah sebuah pantangan besar untuk berbicara kasar dan akandicela oleh Suku Kajang yang lain.
👍👍👍
BalasHapus