MUSEUM KOTA MAKASSAR
Museum Kota Makassar diresmikan pada 07 juni 2000, berisikan informasi yang dikhususkan tentang kota Makassar itu sendiri. Bangunannya merupakan peninggalan belanda dan pernah menjadi kantor pusat pemerintahan kota Makassar. Museum ini didirikan atas ide yang dilontarkan oleh Baso Amiruddin Maula saat mengawali masa jabatannya sebagai Wali Kota Makassar, sebuah bangunan bersejarah yang didirikan pada masa kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1916.
Di ruangan pertama kita akan melihat bebatuan mirip batu bata pada umumnya, menurut pemandu, batu tersebut adalah reruntuhan Benteng Somba Opu dan Kerajaan Tallo, selain itu juga ada batu yang memiliki bekas peluru bukti adanya perperangan pada abad ke-16 bersama Belanda, dan tapak kaki hewan yang konon katanya adalah kucing ataupun ayam dan sampai saat ini masih dalam tahap penelitian.
Terdapat lukisan besar menggambarkan keadaan di pelabuhan pada saat itu terpajang di ruangan selanjutnya, lukisan ini menjadi bukti kejayaan kota Makassar sebagai pusat perdagangan dunia dengan Cengkeh dan Pala sebagai rempah utama yang diperjual belikan. Cengkeh dan Pala didatangkan dari Maluku menggunakan perahu Padewakkang yang juga dapat kita lihat lukisannya disana, perahu Padewakkang selambat-lambatnya tercatat pada abad ke-9 telah digunakan oleh Suku Bugis, Buton dan Mandar untuk berlayar bahkan sampai ke Australia berburu teripang, karena Padewakkang dapat menempuh jarak jauh dan membawa muatan banyak, dikemudian hari pula perahu Padewakkang disebut menjadi cikal bakal dari Perahu Phinisi.
Di dalam museum terdapat patung Ratu Wilhelmina yang sudah berada di Makassar sejak masa Gemeente tahun 1906 dan ditempatkan di Gedung Balaikota Lama (Gemeentehuis). Keberadaannya sebagai penghargaan oleh Pemerintah Belanda, karena Makassar saat itu dianggap sebagai daerah yang sangat potensial di Wilayah Timur Nusantara. Selain itu, banyak hal bisa ditemukan di sana, seperti bata reruntuhan Benteng Somba Opu dan Benteng Tallo, benda serta jejak sejarah Kota Makassar yang menyajikan fakta menarik mengenai keragaman Etnis yang telah berlangsung sejak awal abad ke-16.
Di sana juga terdapat lukisan dan penjelasan bagaimana Makassar pada saat itu menjadi bandar niaga Internasional. Ditunjukkan dengan banyaknya pengunjung kota yang berasal dari luar negeri untuk berdagang. Bandar niaga Tallo dan Somba Opu merupakan satu-satunya pusat niaga yang tersisa di sepanjang jazirah Sulawesi Selatan di bawah bendera Kerajaaan Makassar.
Bola meriam ini menyimpan sejarah pertempuran sengit antara kerajaan Gowa dangan Belanda, pasukan Belanda membombardir pantai Makassar dengan Meriam.
2. Koleksi Foto Reproduksi dan Naskah
Museum Kota Makassar memiliki berbagai koleksi naskah dari masa lalu dalam bentuk foto produksi.
3. Koleksi Foto Peristiwa dan Bangunan Sejarah
Pada beberapa bagian dalam Museum Kota Makassar ini dapat menjumpai koleksi berupa foto-foto tentang berbagai peristiwa atau keadaan kota Makassar pada masa lalu, termasuk di antaranya foto tentang bangunan bersejarah Kota Makassar baik yang dapat dipertahankan keadaanya maupun yang telah musnah.
4. Koleksi Patung dan Relief Potret
Museum Kota Makassar memiliki koleksi patung dan relief potret Ratu Wilhelmina dan Yuliana yang dihadiahkan bagi kota Makassar pada masa Kolonial.
5. Koleksi Patompo Memorial
Pada Museum Kota Makassar ini, anda pun dapat menyaksikan koleksi patompo, mantan Walikota Makassar yang pada masa jabatannya banyak memberikan perubahan pada kemajuan Kota Makassar.
6. Koleksi Maula Art Galeri
Pada Museum Kota Makassar ini, anda pun dapat menyaksikan koleksi patompo, mantan Walikota Makassar yang pada masa jabatannya banyak memberikan perubahan pada kemajuan Kota Makassar.
7. Foto-Foto Mantan Walikota Makassar
Kehadiran Museum Kota Makassar ini diharapkan mampu menjawab harapan masyarakat umum, peneliti, ilmuwan maupun sejarawan terhadap kebutuhan informasi yang jelas mengenai Walikota siapa saja yang pernah memerintah di Makassar.
Komentar
Posting Komentar