PENDIDIKAN SAMPAI SARJANA, SUDAH CUKUPKAH?
Pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan pendidikan orang belajar dan menemukan ha-hal baru yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Sehingga tidak sedikit dari kita ingin menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar senantiasa bisa mengubah cara berpikir kita dari yang sempit menjadi lebih luas. Selain itu, pendidikan juga adalah senjata utama untuk memecahkan hampir semua yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh salah satu tokoh paling berpengaruh di Afrika Selatan yang juga merupakan mantan Presiden Afrika Selatan yakni Nelson Mandela ia berkata “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia”. Hal ini terbukti bahwa saat ini kita berada di abad 21. Perkembangan teknologi di era globalisasi ini secara tidak langsung menantang kita untuk mampu beradaptasi dengan proses perubahan yang begitu cepat disemua lini kehidupan ini, tak terkecuali dibidang pendidikan. Sehingga, hal yang harus kita tempuh untuk meningkatkan kualitas kemampuan kita disegala bidang yakni dengan melalui pendidikan atau bersekolah setinggi-tingginya.
Sebab, jika pendidikan kita rendah, maka
kita akan tergerus oleh zaman dan tidak mampu berkembang atau stagnan ditempat
saja. Oleh karena itu, tidak sedikit dari kita berlomba-lomba atau berusaha
semaksimal mungkin dengan melakukan segala cara agar kita bisa menempuh
pendidikan setinggi-tingginya. Banyak yang ditempuh oleh para pelajar atau
mahasiswa sehingga ia mampu bersekolah setinggi-tingginya baik itu melalui
program beasiswa yang telah disediakan oleh pemerintah ataupun mencari
pekerjaan sampingan agar dirinya bisa menempuh pendidikan setingi mungkin. Hal
ini karena bagi sebagian mereka beranggapan bahwa, yang bisa membedakan kita
antara yang satu dengan yang lain ditengah-tengah masyarakat adalah pendidikan.
Sebab, tidak sedikit dari orang-orang yang pendidikannya tinggi mendapat tempat
tersendiri ditengah masyarakat dan terkadang juga cukup disegani oleh sebagian
masyarakat.
Maka dari itu, menempuh pendidikan tinggi
merupakan impian hampir semua orang. Terlebih lagi jika orang-orang tersebut
terlahir dari orang-orang yang memang sudah berlatar pendidikannya tinggi,
misalnya anak seorang dosen, guru, atau bahkan seorang professor. Sehingga,
baginya itu pendidikan adalah sebuah keharusan yang perlu ditempuh olehnya
karena memang ia terlahir dari orang-orang yang berintelektual. Pendidikan juga
sejatinya membuat orang berakhlakul karimah, dan memegang nilai-nilai atau
norma yang telah dibuat oleh pemerintah setempat. Sehingga, jika kita adalah
orang-orang yang berpendidikan, maka kita termasuk orang-orang yang berkarakter
dan berbudi luhur kepada sesama. Nilai-nilai kemanusiaan tetap harus dijunjung
tinggi bagi para pelajar atau mahasiswa yang saat ini atau telah menempuh
pendidikan setinggi mungkin. Karena jika pendidikan tersebut tidak mengubah
pola perilaku dan pola berpikir kita maka kita termasuk orang yang sia-sia
dalam menempuh pendidikan itu sendiri.
Tapi yang menjadi problem dan pertanyaan
kita sampai hari ini, pendidikan tinggi sampai sarjana sudah cukupkah untuk
membekali diri kita hidup di era revolusi industri 4.0 ini dengan banyak
tantangan yang harus dilalui untuk tetap eksis dan tidak tertinggal karena
kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang? tentu untuk menjawab masalah
ini banyak perspektif yang muncul dalam melihatnya dari banyak sisi. Sebab,
pendidikan sampai sarjana menurut sebagian besar orang, masih belum cukup,
karena pendidikan yang ditempuh dalam kurun waktu empat tahun di perguruan
tinggi (S-1) belum memberikan spesifikasi keilmuan kepada orang tersebut. Oleh
karena, pembelajaran yang ditempuh saat kuliah S-1 masih sekedar rumpun ilmu
umum yang dikaji dalam jurusan yang dipilih
artinya belum memusatkan konsentrasi pengkajian dalam
mengimplementasikan ilmu atau jurusan yang dipelajari dikampus. Tapi, disisi
lain ada yang menganggap bahwa pendidikan sampai sarjana itu rasanya sudah cukup
bagi mereka
Mungkin saja mereka menganggap bahwa
pendidikan sampai sarjana itu sudah cukup menjadi sebagai persyaratan untuk
mereka memasuki dunia lapangan kerja. Karena kita juga banyak melihat bahwa
hampir rata-rata perusahaan besar ketika membuka lowongan kerja salah satu
syaratnya minimalnya ijazah S-1 sehingga ia hanya ingin kuliah sampai sarjana
saja. Bisa juga karena mereka ingin mendaftar sebagai calon pegawai negeri
sipil sehingga mereka kuliah sampai sarjana. Tapi bagi penulis sendiri melihat
bahwa, pendidikan sampai sarjana itu bukan persoalan cukup atau tidak cukupnya,
tapi kita harus melihat dedikasi dan kepedulian seseorang tersebut ditengah
masyarakat ketika mereka dibutuhkan oleh orang-orang yang berpendidikan yang
lebih rendah dari mereka apakah orang yang sudah sarjana ini telah hadir untuk
mereka? Sebagai bentuk kepekaannya terhadap kondisi sosial dimasyarakat.
Bukankah Najwa Shihab pernah berkata; “ Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika
kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk, apa gunanya sekolah tinggi-tinggi,
jika hanya perkaya diri dan famili”. Melihat kata-kata dari mbak nana yang
sapaan akrabnya ini, kita bisa memberikan pandangan baru, bahwa esensi dari
pendidikan itu sendiri bukan sekedar kita ingin cari popularitas ditengah masyarakat,
bukan juga karena kita ingin memperkaya diri dari segala hal. Tapi, hakikat
dari pendidikan itu sendiri yakni bagaimana kita bisa bermanfaat terhadap
sesama terlebih lagi jika mereka membutuhkan ilmu kita untuk belajar dari
pengalaman kita sendiri.
Sehingga pendidikan sampai sarjana bagi
penulis bisa dikatakan telah cukup, jika orang yang telah lulus kuliah ini
mempunyai dedikasi kepada masyarakat. Apalah arti pendidikan itu sendiri jika
hanya membuat diri kita sombong dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar
kita. Meskipun diri berpendidikan tinggi tapi esensi dari pendidikan itu
sendiri yakni memanusiakan manusia tidak ada dalam diri seseorang, makanya
sejatinya tujuan dari pendidikan itu belum sempurna. Karena betapa banyak kita
lihat orang-orang diluar sana yang pendidikannya sampai S-3 bahkan diluar
negeri ia kuliah sampai ia bergelar professor, akan tetapi karya dan dedikasi
mereka dimasyarakat tidak begitu nampak, atau bahkan dirinya sendiri tidak
begitu dikenal oleh masyarakat kecil. Karena mereka hanya selalu berkecimpung
dengan orang-orang yang punya kekuasaan, sehingga waktu mereka untuk
orang-orang yang dibawah mereka tidak begitu dipedulikan.
Maka dari itu tidak ada yang salah ketika
orang ingin kuliah setinggi mungkin bahkan sampai ia bergelar professor. Akan
tetapi, pendidikan yang tinggi itu alangkah baiknya harus diiringi dengan karya
apakah itu berupa buku, ataupun tulisan-tulisan yang dalam karya itu kita bisa
memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat agar mereka yang ditakdirkan
tidak mampu untuk merasakan nikmatnya duduk dibangku perkuliahan bisa tetap
semangat dan termotivasi untuk tetap sabar dalam menjalaninya. Ataukah kita
juga bisa mengiringi dengan membuat sebuah wadah, apakah itu berupa komunitas,
yayasan dan sebagainya yang bisa kita berikan ke masyarakat untuk wadah bagi
mereka untuk tetap belajar meski ia tidak mampu kuliah sampai sarjana.
Sehingga, secara tidak langsung semua dedikasi dan karya-karya kita yang kita
terapkan ditengah masyarakat dapat membawa manfaat bukan hanya untuk kita tapi
juga untuk orang lain. Maka ketika pendidikan kita misalnya hanya sampai
sarjana, karena mungkin keterbatasan ekonomi yang kita miliki sehingga tidak
bisa melanjutkannya bukan hal yang perlu dipersoalkan. Tapi yang perlu untuk
direnungkan pada orang-orang yang telah menyelesaikan kuliahnya di perguruan
tinggi ialah, apa yang telah engkau berikan pada bangsamu dan masyarakatmu
setelah pendidikan tinggi telah engkau lalui.
Komentar
Posting Komentar